Rabu, 24 April 2024

Wewerung Permainan Tradiosional Minahasa

 WEWERUNG PERMAINAN TRADIOSIONAL MINAHASA



Wewerung merupakan salah satu permainan tradisional Minahasa yang sudah ada sejak dulu.

Wewerung (permainan anak yang dibuat dari  pelepah kelapa yang   berbentuk mobil-mobilan, bagian depan berbentuk lancip, serta bagian punggunya di beri celah melintang sebagai tempat pengait bambu/kayu kendali ( panjangnya kurang lebih 30-35 cm).
Kendali terbuat dari bambu atau kayu (kurang lebih 1,5 meter, berdimeter kurang lebih 2,5 cm-3cm) yang dikaitkan pada pelepah yang sudah diberi celah,  bambu kendali diletakkan di pundak pengendara, dengan cara mendorong Wewerung kedepan yang sebelum diletakkan di tanah.



berikut bagaimana cara permainan ini dimainkan :



Itulah info mengenai Wewerung Permainan Tradisional Minahasa, Semoga Bermanfaat ><.



Kamis, 09 Maret 2017

Kaneyan Desaku



Berada di utara pulau Sulawesi tepatnya di Kabupaten Minahasa Selatan Kecamatan Tareran, dengan kondisi alam yang berbukit, yang mayoritas penduduknya menggantukan kehidupannya dengan mengandalkan hasil pertanian.
Kopra dan cengkih adalah komoditas unggulan yang merupakan sumber penopang ekonomi masyarakat. Disamping itu sekitar 30 % lahan  merupakan tambak (Telaga) yang di jadikan tempat budidaya ikan air tawar seperti : ikan mas,mujair,gabus dan sekaligus tempat menanam padi sebagai sumber makanan pokok bagi masyarkat.
Berdasarkan cerita turun temurun bahwa Desa Kaneyan berdiri pada awal Abad 16.
Dahulu sebelum menempati lokasi pemukiman sekarang para leluhur desa menempati wilayah yang di namakan "Mawale" yang berada di sebelah barat desa kurang lebih 4 km. Kehidupan di daerah "Mawale" banyak anggota masyarakat yang mengalami sakit-sakitan sehingga oara tetua desa mengaangap wukayah ini tidak cocok untuk di jadikan pemukiman. Maka melalui ritual adat para tua-tua desa mendapat jawaban berdasarkan pertanda burung yang mengisyaratkan tempat yang baik yakni di sebelah timur "Mawale". Ketika akan menempati tempat yang baru ada juga masyarakat yang pada akhirnya kembali ke desa awal yakni Pinamorongan. Dan yang lain datang menempati tempat yang baru. Oleh mereka yang kembali ke desa Pinamorongan menyebut mereka "YANG BERPISAH" (se' tumane). Sebutan itu di sampaika untuk mereka yng datang ke lokasi yang baru yang saat ini di sebut "Kaneyan".